Next event in:

  • 00 DAYS
  • 00 HR
  • 00 MIN
  • 00 SEC
<>

Gereja St. Bartolomeus

Selamat Datang

Gereja St. Bartolomeus Paroki Taman Galaxy

esse est servire

kita ada untuk melayani

e-mimbar

Mereka yang Terpanggil

untuk Melayani

“…siapakah yang lebih besar: yang duduk makan atau yang melayani?” (Luk. 22: 27)

 

Sejarah keselamatan manusia dimulai ketika manusia pertama jatuh dalam dosa. Allah yang adalah kasih mengutus Putera-Nya ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Melalui salib dan wafat-Nya, Kristus menebus dosa manusia. Setelah Kristus naik ke surga, karya penebusan, dan penyelamatan ini dilanjutkan oleh Roh Kudus melalui kehadiran Gereja ke tengah dunia, “untuk mewartakan dan menegakkan Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah serta mendirikannya di tengah semua bangsa”. Oleh karenanya, Roh Kudus memberi berbagai karunia khusus kepada mereka agar terampil dan siaga dalam melaksanakan tugas dan karya Gereja.

Istilah Gereja sendiri berasal dari kata ekklêsia (Yunani) yang artinya perkumpulan, pertemuan atau rapat. Dengan begitu, berdasar asal katanya, Gereja memiliki makna persekutuan umat Allah yang dipanggil bersama-sama oleh Tuhan. Yesus sendiri yang memanggil mereka dengan tujuan melanjutkan karya penebusan, penyelamatan, dan pembangunan Kerajaan Allah.

Berdasarkan Sakramen Pembaptisan dan Krisma, kita adalah anggota Gereja, Tubuh Mistik Kristus dengan Yesus Kristus sendiri sebagai kepalanya (Kol. 1: 18). Sebagai Tubuh Mistik Kristus, Gereja didirikan sebagai persekutuan orang beriman, persaudaraan cinta kasih, kebenaran yang diutus ke seluruh dunia sebagai terang bumi dan garam dunia (Mat. 5:13-16). Gereja menjelma menjadi sakramen yang ‘mewujud’-nyata membawa keselamatan serta damai bagi seluruh dunia.

Dewan Paroki

Menilik semangat Konsili Vatikan II, banyak rujukan yang menunjukkan betapa banyak ruang gerak partisipasi umat dalam hidup menjemaat (Lumen Gentium 33, 37; Christus Dominus 30; Apostolicam Actuositatem 23-26; Ad Gentes 21). Dengan terang dokumen Konsili Vatikan II, kaum beriman dalam Gereja, utamanya kaum awam bukan lagi dipandang sebagai ‘obyek’ tapi ‘subyek’ yang turut terlibat aktif dalam kebijakan dan pelayanan pastoral. Dalam semangat inilah Dewan Paroki terbentuk.

Dewan Paroki bukan saja perpanjangan tangan pastor melainkan bentuk pelaksanaan partisipasi kaum awam dalam kehidupan menjemaat. “Jika menurut pandangan uskup diosesan setelah mendengar dewan imam, dianggap baik, maka hendaknya di setiap paroki didirikan dewan pastoral yang diketuai pastor paroki; dalam dewan pastoral itu, kaum beriman kristiani, bersama dengan mereka yang berdasarkan jabatannya mengambil bagian dalam reksa pastoral di paroki, hendaknya memberikan bantuannya untuk mengembangkan kegiatan pastoral.” (Kitab Hukum Kanonik kanon 536.1).

Bertolak dari Kitab Hukum Kanonik tersebut di atas, Dewan Paroki adalah suatu badan yang dibentuk atas dasar keputusan uskup, yang di dalamnya berkumpul para wakil umat Allah dengan pastor paroki sebagai kepala guna membantu penyelenggaraan dan pengembangan karya pelayanan pastoral di paroki bersangkutan.  Mereka secara besama-sama memikirkan, memutuskan dan melaksanakan apa yang perlu atau bermanfaat untuk mewartakan Sabda Tuhan, mengembangkan rahmat Allah dan membimbing umat supaya dapat menghayati, mengungkapkan, merayakan, dan mewujudkan iman.

Dalam buku Pedoman Dasar Dewan Paroki 2014 – KAJ dirumuskan: Dewan Paroki adalah badan pastoral yang di dalamnya para pastor bersama-sama dengan wakil-wakil umat melaksanakan tugas dan panggilan untuk terlibat dalam tritugas Kristus, yakni menguduskan, mewartakan, dan menggembalakan.

Dewan Paroki terdiri dari Dewan Paroki Harian, Dewan Paroki Inti, dan Dewan Paroki Pleno.

Dewan Paroki Harian adalah badan pelaksana harian, terdiri dari:

  • Ketua Umum (Pastor Kepala ex officio)
  • Ketua (Pastor Rekan ex officio, bila ada)
  • Wakil Ketua
  • Sekretaris
  • Bendahara
  • Anggota

Dewan Paroki Inti adalah badan koordinatif, terdiri dari:

  • Dewan Paroki Harian
  • Koordinator Wilayah/ Ketua Stasi
  • Ketua-Ketua Seksi

Dewan Paroki Pleno adalah badan musyawarah paroki, terdiri dari:

  • Dewan Paroki Inti
  • Ketua-Ketua Lingkungan
  • Ketua-ketua Komunitas Kategorial
  • Pimpinan Komunitas Biarawan/ Biarawati

Seksi adalah badan Dewan Paroki yang bertugas menyelenggarakan Reksa Pastoral Paroki dalam bidang tertentu. Pembentukan Seksi pada dasarnya mengacu kepada Reksa Pastoral Komisi Keuskupan.

Bagian adalah badan yang dibentuk untuk melaksanakan tugas Dewan Paroki dalam pelayanan yang tidak tertampung dalam Seksi-Seksi.

Tugas Dewan Paroki

Peran utama dewan dalam dinamika umat paroki adalah melayani dan mengembangkan seluruh umat sehingga makin hidup dalam Kristus; mendukung terwujudnya persekutuan umat beriman walau di dalamnya terdapat bermacam tanggung jawab dan karisma anugrah Roh Kudus.

Secara detail peran Dewan Paroki terdiri atas fungsi koinonia (persekutuan), kerygma (pewartaan), leitourgia (liturgy/ perayaan) dan diakonia (pelayanan). Dalam melaksanakan fungsi-fungsi tersebut Dewan Paroki menyatu dengan pelayanan dan tugas pastor di paroki. Dewan Paroki tidak berada lebih tinggi dari pastor tetapi sebagai rekan kerja (partnership) Pastor Paroki. Ada kalanya Dewan Paroki menjadi teman diskusi para pastor mengenai pelayanan di paroki; saat lain Dewan Paroki berfungsi sebagai tim pelaksana kerja para pastor. Tim kerja Dewan Paroki dan Pastor Paroki harus mampu memperlihatkan sebuah komunio kepemimpinan yang kokoh di hadapan umat demi mempersatukan dan menggembalakan umat.

Dewan Paroki juga memiliki peran representasi umat. Dewan Paroki merupakan cermin dinamika umat setempat. Dengan demikian ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh Dewan Paroki, antara lain memberi laporan periodik tentang keadaan paroki jika dibutuhkan; turut bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam kehidupan menggereja umat setempat; mewakili paroki berhubungan dengan kepentingan-kepentingan tertentu pada tingkat kevikepan, dekenat, wilayah atau keuskupan; namun begitu kadang juga dibutuhkan harus mewakili paroki jika berhubungan dengan masalah-masalah hukum seperti urusan aset gereja, tanah, dan sebagainya.

Peran lain Dewan Paroki adalah sebagai dinamisator kehidupan umat di paroki. Hendaknya Dewan Paroki tidak mematikan berbagai potensi gerak umat dengan aturan-aturan yang ketat dan birokratif. Fungsi ini juga terlaksana melalui program-program kerja atau kerja sama koordinatif dengan kelompok kategorial, seksi-seksi, wilayah, dan paroki.

Apa pun peran dewan, dalam praktek kehidupan menggereja harus senantiasa disadari bahwa pemimpin utama adalah Yesus Kristus. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Kristuslah kepala umat perjanjian baru (Lumen Gentium 9). Dengan demikian, para pemimpin baik Pastor Paroki dan Dewan Paroki, hanyalah membantu melayani umat yang sejatinya bukan milik mereka melainkan miliki Kristus. Jemaat Allah sendiri.

Ajakan “Belajar untuk Berbuah”

Sadar akan rahmat Allah Bapa yang besar dan yang telah menyelamatkan dan melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Kristus dari antara orang mati kepada suatu hidup yang penuh pengharapan (1Ptr 1:3), maka selayaknya kita bersukacita dan bersyukur. Sukacita dan syukur tersebut diungkapkan dengan menyiapkan akal budi kita untuk melaksanakan panggilan sebagai anak-anak Allah.

Paroki Taman Galaxi, sejak berdiri di tahun 1995, telah mengalami dan merasakan rahmat Allah yang besar. Kita telah memiliki sebuah gedung gereja, sebuah Gedung Karya Pastoral, rumah pastoran, Gua Maria dan tak kalah berharganya adalah perkembangan umat yang saat ini mendekati angka 10,000 orang. Puji dan syukur kepada Allah Bapa atas penyertaan-Nya dalam pertumbuhan iman umat yang ditandai dengan maraknya kegiatan-kegiatan devosional dan pelayanan baik dalam lingkup teritorial dan kategorial. Sejak tahun 2013, kita telah memiliki sebuah Arah Dasar Pastoral Paroki yang disusun berdasarkan masukan-masukan dari umat. Saat ini kita semua bergerak sesuai dengan Arah Dasar Pastoral tersebut dan terus belajar untuk melayani dengan tulus dan sukacita.

Perayaan Ulang Tahun ke-20 Paroki Taman Galaxi mengajak kita merenungkan kembali tugas perutusan kita sebagai pengikut Yesus Kristus. Yesus berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yoh 15:16)

St. Paulus menulis: “Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah.” (Rm 7:4)

Nabi Yeremia menyampaikan: “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yer 17:7-8)

Kita tahu sekarang bahwa kita diutus untuk berbuah. St. Paulus menegaskan bahwa buah Roh adalah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal 5:22-23).