Next event in:

  • 00 DAYS
  • 00 HR
  • 00 MIN
  • 00 SEC
<>

Gereja St. Bartolomeus

Selamat Datang

Gereja St. Bartolomeus Paroki Taman Galaxy

esse est servire

kita ada untuk melayani

e-mimbar

DARI SAWAH JADI GEREJA

Hampir setiap hari, Aloysius Prasetya mengajak kedua putrinya Ika dan Ria ke area persawahan. Letak itu hanya 200 meter dari kantor kecamatan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan. dengan mengayuh sepeda atau biasanya juga mengendarai mobil, Prasetya memboyong mereka ke sana.
Kala itu, 20 tahun silam, belum banyak rumah berdiri di area yang sekarang bernama Grand Galaxy City. Sejauh mata memandang hanya ada hamparan permadani hijau. Di sanalah Prasetya bersama kedua putrinya menghabiskan sisa hari.

Visi

Terbangun dan berkembangnya Gereja sebagai Umat Allah yang semakin setia sebagai murid-murid Yesus Kristus dalam menanggapi Kabar Gembira-Nya dan semakin setia sebagai saksi serta utusan-Nya di mana pun mereka hidup dan bekerja dalam masyarakat.

MISI

Memberdayakan lingkungan dan kelompok kategorial sebagai umat basis yang berkualitas dalam iman, persaudaraan dan pelayanan kasih dengan:

  1. Meningkatkan pengetahuan, pemahaman ajaran iman, dan penghayatannya melalui Pendalaman Iman, Kitab Suci, dan Ajaran Sosial Gereja.
  2. Mengembangkan liturgi yang sakral dan menyatu dalam kehidupan umat.
  3. Mengembangkan persekutuan umat Katolik yang makin inklusif dan persaudaraan insani lintas agama dalam masyarakat.
  4. Meningkatkan pelayanan sosial ekonomi terhadap umat dan masyarakat yang sangat membutuhkan (kaum miskin, buruh, pembantu rumah tangga yang termarginalisasi), terutama dalam teritorial paroki.
  5. Meningkatkan peran serta OMK dalam berbagai kegiatan dan pelayanan dalam kehidupan menggereja.
  6. Meningkatkan kepedulian umat terhadap lingkungan hidup.
  7. Mengembangkan pelayanan kepada umat melalui pastoral gembala baik.

Hampir setiap hari, Aloysius Prasetya mengajak kedua putrinya, Ika dan Ria, ke area persawahan. Letak daerah itu hanya 200 meter dari Kantor Kecamatan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, atau sekitar satu kilometer dari rumah mereka di Masnaga, Jakasetia. Dengan mengayuh sepeda atau mengendarai mobil, Prasetya memboyong mereka ke sana.

Kala itu, 20 tahun silam, belum banyak rumah berdiri di area yang sekarang bernama Grand Galaxi City. Sejauh mata memandang hanya ada hamparan permadani hijau. Di sanalah Prasetya bersama kedua putrinya menghabiskan sisa hari. Mereka bermain dan sesekali mengabadikan kenangan lewat kamera polaroid.

Seiring waktu, lokasi itu mulai bersolek. Berbagai pemukiman bermunculan. Di situlah kelak berdiri Gereja Katolik untuk umat di sekitar Kecamatan Bekasi Selatan hingga Jatiasih. Kehadiran gedung gereja dan berbagai sarana yang kita rasakan sekarang tidak muncul dengan hanya merapal simsalabim, tetapi melewati proses yang sangat panjang dan bertahap.

UMPEG-UMPEGAN

Setiap kali mengikuti Misa di Paroki St. Arnoldus Janssen Bekasi, Philipus Winarso tak bisa menyembunyikan rasa gundahnya. Pengurus Dewan Paroki (DP) ini prihatin melihat umat membeludag sampai keluar gereja. Situasi tambah mengenaskan karena macet. Maklum, lokasi gereja berada persis di samping terminal Bekasi.

Situasi seperti itu terjadi tiap kali Misa pada hari Sabtu dan Minggu. Tak ayal, umat merasa kurang nyaman saat mengikuti Perayaan Ekaristi. “Ada umat yang pergi ke Arnoldus, tapi ada juga umat yang pindah-pindah gereja agar tidak umpeg-umpegan (berdesak-desakan)”, kata Winarso, mengenang.

Tak hanya itu, jumlah umat di sana sekitar 3.546 kepala keluarga atau 14.551 jiwa. Mereka tersebar di 35 lingkungan dan 8 wilayah. Sementara tenaga pastoral (pastor) kala itu hanya 3 orang. Akibatnya, pelayanan pastoral menjadi kurang optimal. Situasi seperti itu menggugah Winarso untuk merencanakan pemekaran paroki.

Suatu hari pada tahun 1992, Winarso mengundang 35 perwakilan umat ke rumahnya di Masnaga. Gayung bersambut, ajakan dan rencananya menuai respon positif dari mereka. Setali tiga uang hasilnya begitu ia menggelindingkan ide tersebut di hadapan Pengurus Gereja Dana Papa/ Dewan Paroki (PGDP/DP) periode 1991-1994. Rencana itu pun disetujui oleh Uskup Agung Jakarta saat itu, Mgr. Leo Sukoto, SJ (1920-1995).

Berbekal izin dan dukungan Mgr. Leo, Panitia Pendirian Gereja (PPG) mencari lahan di Bekasi Selatan. Namun, perburuan mereka menemukan lokasi ternyata bak mencari jarum di tumpukan jerami. Bukan karena tak ada lahan kosong di Bekasi Selatan, melainkan anggaran yang disediakan kuskupan jauh di bawah nilai jual tanah.

Agus Pardiono mendapat tawaran tanah di seberang Perumahan Century, Rp 125 ribu per meter persegi. Sedangkan Winarso ditawari Rp 100 ribu per meter persegi untuk lahan di seberang Peninsula Garden (kini kantor PT Telkom). Masih ada beberapa tempat lain yang telah mereka survey. Semua hasil pencarian lahan mereka laporkan kepada keuskupan.

Sayang, keuskupan keberatan dengan harga tanah yang telah panitia laporkan. Keuskupan minta kepada Winarso dan kawan-kawan agar mencari tanah dengan harga maksimal Rp 10 ribu per meter persegi. Seluruh panitia kaget mendengar jawaban Bendahara Keuskupan. “Kami putus asa, di mana bisa mendapatkan tanah dengan harga segitu?”, tutur Y. Toro Prayitno, Ketua I PPG, lemas.

TAK TERDUGA

Winarso sama sekali tak mengenal Wiryono Halim, Direktur Utama PT. Taman Puri Indah. Namun sekonyong-konyong timbul keinginannya untuk bertemu pimpinan pengembang Perumahan Taman Galaxy kala itu. Winarso lantas mengajak Bernard Hoediono untuk menuntaskan keinginannya itu.

Tak dinyana, pada 2 Oktober 1993, kedatangan Winarso dan Hoediono disambut oleh sang pengembang. Sekitar 90 menit mereka larut dalam pembicaraan. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tanpa diduga, Wiryono langsung memberikan lahan untuk mendirikan gereja. Bahkan dia meminta Winarso untuk memilih lokasi, yakni tanah yang sekarang berdiri SMA Sudirman atau di lokasi saat ini. Keputusan Winarso kini telah terjawab.

Bantuan PT Taman Puri Indah segera ditindaklanjuti dengan membentuk struktur Panitia Pendirian Gereja Katolik Bekasi Selatan, antara lain: Winarso, Toro Prayitno, Aloysius Prasetya, Dono Indarto, AZ Gunawan, Murdianta dan Sudiro Agung. Mereka lantas bergerak untuk mengurus izin pendirian gereja.

Selama proses tersebut, panitia menyebarkan lembaran doa Novena Tiga Kali Salam Maria kepada umat. Mereka yakin, tanpa doa, segala usaha akan sia-sia. Keyakinan itu terbukti, proses perizinan berjalan mulus. Pada 14 Desember 1994, panitia berhasil mengantongi surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). “Kami tidak mengeluarkan uang. Juga bukan karena pastor menyembuhkan keluarga pejabat, atau karena bantuan seorang jenderal sehingga surat izin ini keluar”, kata Winarso menandaskan.

15 Januari 1995, panitia menggelar Misa Syukur di lantai tiga Toserba Ramanda (sekarang Naga Swalayan). Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Mgr. Leo. Misa tersebut juga menjadi perayaan umat perdana calon paroki baru. Sejak itu, Panitia Pembangunan mulai bergeliat merealisasikan bangunan gereja baru.

Delapan bulan kemudian, Agustus 1995, keluar surat Uskup Agung Jakarta No. 1270/4.4.12/95. Surat itu mengangkat dan menetapkan Romo Alexius Dato Lelangwayan, SVD menjadi Pastor Kepala Paroki Taman Galaxi, Bekasi Selatan. Dan sebulan berikutnya, uskup juga menerbitkan Surat Keputusan (SK) No 1479/3.25.3/95 tentang pengangkatan Pengurus Gereja dan Dana Papa/ Dewan Pengurus Paroki St. Bartolomeus (PGDP/DP).

Peristiwa itu juga menandai berdirinya Paroki Taman Galaxi secara resmi. Moment tersebut punya kesan menarik, sebab Paroki Taman Galaxi menjadi paroki ke-50 di KAJ, bertepatan dengan 50 tahun hari kemerdekaan Republik Indonesia, dan 25 tahun karya episkopal Mgr. Leo di keuskupan metropolitan ini.

Partisipasi Umat

Tanpa partisipasi umat, Gereja Katolik St. Bartolomeus, Paroki Taman Galaxi, Bekasi tidak akan berdiri. Pembangunan gereja butuh banyak biaya. Dalam proposal, panitia menganggarkan sekitar Rp 1,2 miliar untuk pembangunan dan perlengkapan gereja. Namun seiring waktu, jumlah tersebut membengkak jadi Rp 1,6 miliar karena kenaikan harga bahan bangunan serta perlengkapan gereja.

Panitia menimbang, seandainya jumlah umat paroki sekitar seribu jiwa, dan seandainya setiap umat menyumbang Rp 1,2 juta, maka akan bisa meringankan usaha panitia untuk mencari dana. Namun, panitia sadar, ekonomi umat berbeda-beda. Oleh sebab itu, panitia memutuskan, sumbangan menyesuaikan kemampuan umat.

Rencana panitia menuai respon positif. Lebih dari sebagian umat menyanggupi rencana tersebut. Berkat partisipasi umat, panitia kian optimis rencana menghadirkan gereja baru di Bekasi Selatan bakal cepat terealisasi. Tak pelak, panitia menargetkan gereja baru berkapasitas 1.050 orang, dengan luas bangunan sekitar 1.050 m² rampung dalam setahun.

Panitia juga menggalang dana dengan menggelar Malam Dana “Andrawina dalam Gita Kenangan”, di Puri Agung Hotel Sahid Jakarta, 26 April 1996. Dalam kesempatan tersebut, sejumlah umat dari Paroki Maria Bunda Karmel Tomang, Jakarta Barat ikut membantu. Seluruh undangan dalam acara yang dikomandani oleh Bambang Tridjoko itu terjual ludes. Padahal harga per undangan Rp 300 ribu. Nilai yang cukup tinggi kala itu. Hasil bersih mencapai sekitar Rp 226 juta.

Beberapa kegiatan lain untuk mendulang dana juga dilakukan, misalnya membentuk koor untuk rekaman lagu-lagu liturgi. Dari momen tersebut kelak terbentuk kelompok koor gabungan. Selain itu, setiap wilayah

mengumpulkan donasi di paroki-paroki di KAJ, sumbangan keuskupan, dan bantuan para donatur, baik dari dalam maupun luar paroki.

Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Pietro Sambi (1938-2011) memberi apresiasi kepada umat Paroki Taman Galaxi atas kegigihan dan kerjasama membangun Rumah Tuhan. Saat hadir di malam amal, Mgr. Sambi menginginkan agar semua umat berbangga atas sumbangan yang sudah diberikan untuk gereja, sekalipun hanya satu batu. “Tiap orang dapat menemukan jalan untuk menjadi berguna. Dengan demikian umat Katolik akan merasa bahwa gereja ini milik mereka”, katanya sambil tersenyum.

Berkat partisipasi umat, pembangunan gereja rampung empat bulan lebih cepat dari rencana awal. Umat pertama kali merasakan bangunan baru itu pada 18 Agustus 1996. Hampir setahun kemudian, Uskup Agung Jakarta Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja, SJ memberkati gereja yang berada dalam karya kegembalaan Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini, SVD) ini.

RUMAH GEMBALA

Seiring waktu, ketika Gereja Sanbarto akan merayakan lustrum pertama (lima tahun), rasa kurang sreg hinggap di hati panitia pembangunan gereja. Pasalnya, para pastor yang berkarya di sana masih tinggal di kontrakan. Memang rencana mendirikan tempat tinggal pastor sudah tertanam dalam konsep panitia sejak pembuatan gereja. Namun, rencana tersebut baru bisa terealisasi saat itu.

Realisasi ditandai dengan keluarnya surat keputusan pembentukan panitia pembangunan pastoran nomor 03/06/DPS.KEP/2000, tanggal 1 Juni 2000. Kusnarno didapuk sebagai ketua panitia. Kusnarno bersama rekan-rekannya langsung tancap gas agar bisa mengeluarkan para gembala dari kontrakan.

Empat bulan kemudian, tiang pancang pastoran berdiri tegak di atas tanah berukuran 378 m², dengan luas bangunan 430 m² dan terbagi menjadi tiga tingkat. Pemancangan tiang utama berlangsung pada September 2000, bertepatan dengan perayaan lustrum pertama Gereja Sanbarto. Pemancangan tiang dilakukan oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) KAJ, Romo Yohanes Subagyo.

Momen pemancangan tiang meletupkan semangat panitia. Mereka bertekad, pastoran bisa berdiri dalam waktu tujuh bulan. Kegigihan panitia berbuah manis, pembangunan rumah para gembala rampung sesuai rencana. Dengan demikian, para pastor bisa hijrah dari kontrakan. Kemudian, pada September 2001, Romo Bagyo memberkati bangunan itu.

DENTANG GENTA

Kendati umat sudah memiliki gereja, namun belum terasa lengkap tanpa kehadiran lonceng. Umat Sanbarto baru mendengar dentang genta sekitar delapan tahun kemudian. Lonceng asal Jerman dengan berat 406 kg resmi digunakan pada 23 Desember 2004. Romo Alex membunyikan lonceng dan disaksikan tokoh Muslim disekitar gereja.

SPIRIT BEDENG

Banyak umat Paroki Taman Galaxi dirumahkan saat krisis keuangan pada tahun 1997-1998. Akibatnya, tak sedikit dari mereka kehilangan mata pencarian. Problem sosial yang merundung banyak umat paroki ini, menggerakkan Ignatius Edy Winarto bersama rekan-rekannya di Panitia Pembangunan Fisik Kompleks Gereja (P2FKG) membuat bedeng. Di sana umat bisa berjualan, seperti sayuran dan makanan. Dari hasil itu, mereka bisa menyambung hidup.

Sementara itu, gereja yang telah berdiri sekitar enam tahun belum memiliki Gedung Karya Pastoral. Sehingga untuk pertemuan, seminar, latihan koor, dan berbagai kegiatan umat berlangsung di dalam gereja. Tak pelak, selama acara berlangsung P2FKG sering kali mendapati umat ngobrol dan makan-minum di dalam gereja.

Memang, sejak awal gereja berdiri, Gedung Karya Pastoral merupakan salah satu dari ketiga pilar (gereja dan pastoran) yang akan direalisasikan. Oleh karena itu, pembangunan Gedung Karya Pastoral menjadi perhatian serius P2FKG. Apalagi panitia sadar bahwa pemukiman di Bekasi Selatan dan Jatiasih bakal berkembang pesat.

“Selain mengembalikan kesakralan gereja, Gedung Karya Pastoral menjadi tempat ekspansi ketika umat membludak di gereja pada Misa mingguan atau hari raya. Selain itu, gedung tersebut bisa menjadi pusat layanan dan interaksi umat serta masyarakat”, kata Edy merinci.

Seiring waktu, keluar surat Izin Pelaksanaan Mendirikan Bangunan (IPMB) pada 26 Juni 2003. Sejak saat itu, pembangunan Gedung Karya Pastoral mulai berdenyut. Di atas lahan dua ribu meter persegi berdiri gedung dengan luas bangunan 1700 m². Dalam rencana P2FKG, gedung tersebut akan dibangun menjadi empat tingkat dengan pembagian sebagai berikut.

Lantai satu, diisi ruang sekretariat, layanan publik (Seksi Pelayanan Sosial Ekonomi dan Kesehatan), serta Bina Iman Anak. Lantai dua, ruang pertemuan seksi paroki, kelompok kategorial, persekutuan, pengajaran, dan rapat. Lantai tiga, aula serba guna. Lantai empat, ruang pantau, pencahayaan, dan sistem penyuaraan. Selama proses pembangunan, bantuan umat sangat luar biasa. Umat getol ngamen ke gereja-gereja, menyumbang uang, material bangunan, serta doa.

Tiga tahun kemudian, gedung itu berdiri dan resmi digunakan pada Minggu 24 September 2006. Kini, sudah sembilan tahun Gedung Karya Pastoral berdiri dan bersolek dengan hadirnya sejumlah fasilitas lain seperti lift dan Ruang Interaksi Umat (RIUM).

Sejurus itu, pria kelahiran Yogyakarta 57 tahun lalu ini percaya bahwa di dalam Gedung Karya Pastoral ini spirit bedeng tetap hadir dan terasa. Semangat pelayanan terus dijaga dan diwariskan agar tidak kehilangan arah dan makna dalam hidup menggereja.

MERAWAT BUNDA

Seiring perjalanan waktu, Gereja St. Bartolomeus terus bertumbuh. Jumlah umat kian bertambah, dan kini mendekati angka 10.000. Saat Misa, gedung gereja seluas 1.050 m² sudah tidak menampung umat lagi, meski jumlah Misa sudah ditambah menjadi 4x di hari Minggu.

Aktivitas umatnya pun bisa dibilang luar biasa, tak pernah sepi. Setiap orang pasti mengatakan, “Gereja kita ini aktif sekali.” Memang, banyak sekali kegiatannya, terutama di hari Minggu. Apa lagi saat menjelang Hari Raya Natal, Paskah, atau Ulang Tahun Paroki. Bukan hanya kegiatan-kegiatan dari program kerja para seksi paroki, kelompok-kelompok kategorialnya pun aktif, apa lagi OMK-nya. Aktivitas yang sedemikian itu tak ayal mengandaikan terpenuhinya sarana dan prasarana fisik yang memadahi. Sementara fasilitas yang ada saat ini, meski bisa dibilang cukup, ternyata masih kurang memadahi.

Di satu sisi, Gereja yang terus bertumbuh dan hidup ini pantas kita syukuri. Namun di sisi lain, hal ini menjadi tantangan yang harus dijawab oleh Dewan Paroki. Dewan Paroki musti peka dan terus mencari solusi-solusi kreatif dan nyata berupa pembenahan, pembangunan, atau pengadaan fasilitas baru. Kepentingannya hanya satu, yaitu menjawab kebutuhan umat.

Dalam sejumlah kesempatan, baik itu ketika kunjungan ke wilayah atau berpapasan dengan umat, Dewan Paroki menerima banyak keluhan soal suhu yang kian panas dan minimnya sirkulasi udara. Tak ayal, saat Misa banyak para lanjut usia merasa sesak di dada, pusing, bahkan ada yang sampai pingsan.

Situasi kian pelik ketika Misa Mingguan, penerimaan Sakramen Baptis dan Krisma, serta Natal dan Pekan Suci. Menurut keterangan petugas Poliklinik St. Bartolomeus, saat Natal dan Pekan Suci, paling sedikit lima umat pusing dan pingsan dalam sekali Misa. Hal tersebut dipicu karena asupan oksigen ke dalam tubuh minim.

Suatu kali, Dewan Paroki mengukur suhu di dalam gereja saat Misa Sabtu dan Minggu. Dari hasil pengukuran itu, ternyata suhu di dalam gedung gereja mencapai 34-35 derajat celsius. Padahal, suhu ideal untuk sirkulasi pernapasan manusia berkisar 25-30 derajat celsius. Memang, saat gereja pertama kali berdiri masih berada di area terbuka.

Lahan pertanian dan perkebunan yang masih membentang luas membuat sirkulasi udara berjalan lancar. Oleh karena itu, ketika merencanakan pembangunan gereja, panitia tidak memasukkan pemasangan pendingin ruangan (Air Conditioner/ AC) di dalam gereja. Seiring perjalanan waktu, ternyata pengembang Perumahan Taman Galaxi memperluas pembangunan kompleks perumahan, termasuk empat gereja Protestan di sekitar Gereja St. Bartolomeus.

Tak pelak, hal itu mengurangi pasokan udara ke dalam Gereja St. Bartolomeus. Hal itu kian diperparah karena pemanasan global. Banyak umat bertanya kepada Dewan Paroki, apa yang bisa mereka lakukan untuk mengatasi problem ini? Tak sedikit umat juga mengusulkan kepada Dewan Paroki agar dipasang AC di dalam gereja. Atas desakan dan masukan umat, maka Dewan Paroki menyurvei lokasi, agar pemasangan AC tidak merusak dan mengurangi struktur serta estetika bangunan. Selain itu, Dewan Paroki juga menimbang tipe AC yang sesuai dengan kebutuhan gedung gereja.

Dari hasil tinjauan Dewan Paroki, ternyata tipe yang paling sesuai untuk gereja adalah AC tipe split duct. Tipe tersebut memberikan kemudahan dalam pemasangan dan pemeliharaan. Merk AC dengan proposal teknis dan harga yang terbaik adalah “Fuji Electric”. Total kapasitas AC yang dibutuhkan gereja adalah 79 PK, dengan perincian sebagai berikut: sepuluh PK untuk altar dan sekitarnya, 40 PK untuk area utama (bagian tengah) gereja, 20 PK untuk balkon dan 9 PK untuk area di bawah balkon.

Dewan Paroki pun menjamin pemasangan tersebut tidak akan mempengaruhi struktur bangunan serta nilai estetisnya. Rencana dan kajian tersebut lalu disampaikan kepada KAJ. Setelah mendapat persetujuan dari keuskupan, paroki memilih dan menentukan kontraktor, lalu mengangkat sebuah tim untuk merealisasikan rencana pemasangan AC. Melalui Surat Keputusan Dewan Paroki nomor 004/03/DP.SK/TKFG/2013 diangkat enam orang yakni, dua anggota Dewan Paroki dan empat umat menjadi Tim Kerja Fasilitas Gereja (TKFG). Proses pemasangan AC mulai bergerak pada awal Maret 2013.

Selama beberapa pekan, berkat kerja keras para pekerja dan TKFG serta doa dan dana kasih umat, AC di dalam gereja bisa dinikmati pada bulan September 2013. Umat kini bisa merasakan gereja yang “adem”, sehingga menambah kekhusyukan saat beribadah. Perkembangan yang terjadi di Gereja St. Bartolomeus tak hanya hadirnya pendingin ruangan. Ada sejumlah perkembangan lain di dalam gedung gereja, di antaranya renovasi Panti Imam.

Selain membuat tampilan bagian ini lebih indah, renovasi Panti Imam sekaligus menandai peluncuran Tahun Ekaristi yang digaungkan oleh Keuskupan Agung Jakarta. Posisi Tabernakel diubah. Sebelumnya Tarbernakel berada di sebelah kanan (dari depan), namun tempat bertakhtanya Sakramen Maha Kudus itu sekarang berada di posisi tengah. Perubahan posisi juga tampak pada mimbar sabda.

Saat ini mimbar sabda diletakkan di sisi kiri sesuai arahan Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Tak hanya itu, kursi imam diletakkan lebih ke depan, agar umat bisa melihat imamnya saat Perayaan Ekaristi. Perbaikan yang langsung tampak begitu masuk gereja adalah latar belakang panti imam.

Sebelum tahun 2012, umat masih melihat dinding belakang panti iman berwarna putih kusam dan retak di sejumlah ruas. Saat ini, bagian tersebut sudah ditutup menggunakan multiplex panel, sehingga tampilan Panti Imam terlihat anggun dan agung. Selain itu, pencahayaan di Panti Imam juga ditingkatkan untuk mempercerah area tersebut, dan mendukung kualitas pengambilan gambar baik foto maupun video.

Terkait video atau tayangan saat Misa, Dewan Paroki melengkapi sejumlah ruas gereja dengan liquid-crystal display (LCD). Kehadiran sarana visual tersebut bertujuan untuk membantu umat agar bisa mengikuti dan melihat Altar, terutama untuk umat yang berada di luar gereja dan tribun yang sulit atau bahkan tidak bisa memandang Altar dan imam yang memimpin perayaan Ekaristi. Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) 311 secara tidak langsung mendukung upaya tersebut: “Tempat umat beriman hendaknya diatur dengan seksama sehingga mereka dapat berpartisipasi dengan semestinya dalam perayaan-perayaan kudus, baik secara visual maupun secara batin”.

Meski demikian, pemanfaatan LCD jangan sampai menggangu atau membuyarkan fokus umat saat mengikuti Misa. Dewan Paroki juga sudah melakukan pengecatan ulang gereja dan Gedung Karya Pastoral, perbaikan kaca Patri di atas Panti Imam yang bocor kala hujan, peremajaan sound sytem, kabel, dan panel gereja, membuat ruang pengaturan suara di belakang bangku umat (di samping pintu masuk utama), serta perbaikan atap di sisi samping Gedung Karya Pastoral. Rencana besar ke depan, Dewan Paroki akan membangun Gedung Interaksi Umat (perluasan dari ruang interaksi umat/ RIUM).

Gedung baru ini nanti akan mengakomodir seksi dan kelompok kategorial yang membutuhkan ruangan untuk pelayanan umat yang optimal. Selain itu, GIUM ini juga akan dilengkapi dengan sejumlah ruang pertemuan, sehingga umat tidak kesulitan saat ingin menggelar rapat. Perkembangan rencana ini telah mendapat persetujuan dari keuskupan dan saat buku ini ditulis, sedang dalam proses lelang. Selain itu, Paroki Taman Galaxi juga sudah membeli tanah sekitar 1700 m² di Kemang Pratama. Di atas lahan tersebut kelak akan dibangun kapel.

Hingga saat buku ini ditulis, Dewan Paroki sudah mengantongi surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Wali Kota Bekasi. Sedikit umat juga mengusulkan kepada Dewan Paroki agar dipasang AC di dalam gereja. Atas desakan dan masukan umat, maka Dewan Paroki menyurvei lokasi, agar pemasangan AC tidak merusak dan mengurangi struktur serta estetika bangunan. Selain itu, Dewan Paroki juga menimbang tipe AC yang sesuai dengan kebutuhan gedung gereja. Dari hasil tinjauan Dewan Paroki, ternyata tipe yang paling sesuai untuk gereja adalah AC tipe split duct. Tipe tersebut memberikan kemudahan dalam pemasangan dan pemeliharaan. Merk AC dengan proposal teknis dan harga yang terbaik adalah “Fuji Electric”. Total kapasitas AC yang dibutuhkan gereja adalah 79 PK, dengan perincian sebagai berikut: sepuluh PK untuk altar dan sekitarnya, 40 PK untuk area utama (bagian tengah) gereja, 20 PK untuk balkon dan 9 PK untuk area di bawah balkon.

Dewan Paroki pun menjamin pemasangan tersebut tidak akan mempengaruhi struktur bangunan serta nilai estetisnya. Rencana dan kajian tersebut lalu disampaikan kepada KAJ. Setelah mendapat persetujuan dari keuskupan, paroki memilih dan menentukan kontraktor, lalu mengangkat sebuah tim untuk merealisasikan rencana pemasangan AC. Melalui Surat Keputusan Dewan Paroki nomor 004/03/DP.SK/TKFG/2013 diangkat enam orang yakni, dua anggota Dewan Paroki dan empat umat menjadi Tim Kerja Fasilitas Gereja (TKFG). Proses pemasangan AC mulai bergerak pada awal Maret 2013. Selama beberapa pekan, berkat kerja keras para pekerja dan TKFG serta doa dan dana kasih umat, AC di dalam gereja bisa dinikmati pada bulan September 2013. Umat kini bisa merasakan gereja yang “adem”, sehingga menambah kekhusyukan saat beribadah.

Perkembangan yang terjadi di Gereja St. Bartolomeus tak hanya hadirnya pendingin ruangan. Ada sejumlah

perkembangan lain di dalam gedung gereja, di antaranya renovasi Panti Imam. Selain membuat tampilan bagian ini lebih indah, renovasi Panti Imam sekaligus menandai peluncuran Tahun Ekaristi yang digaungkan oleh Keuskupan Agung Jakarta.

Posisi Tabernakel diubah. Sebelumnya Tarbernakel berada di sebelah kanan (dari depan), namun tempat bertakhtanya Sakramen Maha Kudus itu sekarang berada di posisi tengah. Perubahan posisi juga tampak pada mimbar sabda. Saat ini mimbar sabda diletakkan di sisi kiri sesuai arahan Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Tak hanya itu, kursi imam diletakkan lebih ke depan, agar umat bisa melihat imamnya saat Perayaan Ekaristi.

Perbaikan yang langsung tampak begitu masuk gereja adalah latar belakang panti imam. Sebelum tahun 2012, umat masih melihat dinding belakang panti iman berwarna putih kusam dan retak di sejumlah ruas. Saat ini, bagian tersebut sudah ditutup menggunakan multiplex panel, sehingga tampilan Panti Imam terlihat anggun dan agung. Selain itu, pencahayaan di Panti Imam juga ditingkatkan untuk mempercerah area tersebut, dan mendukung kualitas pengambilan gambar baik foto maupun video.

Terkait video atau tayangan saat Misa, Dewan Paroki melengkapi sejumlah ruas gereja dengan liquid-crystal display (LCD). Kehadiran sarana visual tersebut bertujuan untuk membantu umat agar bisa mengikuti dan melihat Altar, terutama untuk umat yang berada di luar gereja dan tribun yang sulit atau bahkan tidak bisa memandang Altar dan imam yang memimpin perayaan Ekaristi.

Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) 311 secara tidak langsung mendukung upaya tersebut: “Tempat umat beriman hendaknya diatur dengan seksama sehingga mereka dapat berpartisipasi dengan semestinya dalam perayaan-perayaan kudus, baik secara visual maupun secara batin”. Meski demikian, pemanfaatan LCD jangan sampai menggangu atau membuyarkan fokus umat saat mengikuti Misa.

Dewan Paroki juga sudah melakukan pengecatan ulang gereja dan Gedung Karya Pastoral, perbaikan kaca Patri di atas Panti Imam yang bocor kala hujan, peremajaan sound sytem, kabel, dan panel gereja, membuat ruang pengaturan suara di belakang bangku umat (di samping pintu masuk utama), serta perbaikan atap di sisi samping Gedung Karya Pastoral.

Rencana besar ke depan, Dewan Paroki akan membangun Gedung Interaksi Umat (perluasan dari ruang interaksi umat/ RIUM). Gedung baru ini nanti akan mengakomodir seksi dan kelompok kategorial yang membutuhkan ruangan untuk pelayanan umat yang optimal. Selain itu, GIUM ini juga akan dilengkapi dengan sejumlah ruang pertemuan, sehingga umat tidak kesulitan saat ingin menggelar rapat. Perkembangan rencana ini telah mendapat persetujuan dari keuskupan dan saat buku ini ditulis, sedang dalam proses lelang.

Selain itu, Paroki Taman Galaxi juga sudah membeli tanah sekitar 1700 m² di Kemang Pratama. Di atas lahan tersebut kelak akan dibangun kapel. Hingga saat buku ini ditulis, Dewan Paroki sudah mengantongi surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Wali Kota Bekasi.

Paroki Taman Galaxi telah berusia 20 tahun. Syukur dan terima kasih merupakan kata pertama yang kita daraskan atas penyertaan-Nya, atas kerjasama antara umat dengan umat dan umat dengan warga sekitar. Atas semua itu, bahtera paroki ini masih terus melaju kendati ada riak-riak selama mengarungi kehidupan. Itu biasa dalam hidup bersama.

Biduk paroki ini masih akan terus mengarungi kehidupan. Masih ada berbagai hal yang akan terus kita alami dan kita lakukan selama beberapa tahun ke depan. Kita beruntung para pendahulu telah meletakkan pondasi kokoh untuk paroki ini. Mereka telah merintis dan berjasa sehingga umat Katolik di Bekasi hingga kini tetap bertahan sebagai Gereja dalam arti sesungguhnya, yakni umat Allah.

Apa yang bisa kita bayangkan gereja dan paroki ini pada sepuluh tahun mendatang? Lantas, apa yang bisa kita lakukan saat ini?

Pertama, tentu saja kita harus merawatnya. Saat ini sarana dan fasilitas gereja telah lengkap. Gereja sudah mempunyai pendingin udara. Gedung Karya Pastoral telah tersedia dengan tiga tingkat, bahkan sebentar lagi akan berdiri Gedung Interaksi Umat, sehingga umat tidak bingung menggelar pertemuan dan acara.

Selain itu, di paroki Taman Galaxi ada beberapa yayasan pendidikan Katolik yang ringan tangan meminjamkan aula atau ruang pertemuan bagi kelompok teritorial dan kategorial. Dana juga tidak menjadi kendala di Paroki Taman Galaxi, sebab tidak pernah terdengar ada wilayah atau komunitas di paroki ini yang tidak bisa membuat acara atau kegiatan karena terbentur dana.

Fokus perhatian kita saat ini adalah bagaimana merawat dan menjaga semua yang telah kita miliki dengan baik. Misalnya, berbagai properti atau peralatan yang digunakan untuk suatu acara, setelah selesai hendaklah disimpan kembali dengan baik, bersih, dan lengkap, sehingga bisa digunakan kembali untuk kegiatan berikutnya. Kita menghindari jangan sampai pada kegiatan serupa kelak kita menganggarkan barang atau perlengkapan yang sama karena kita tidak menyimpan dan merawatnya dengan baik. Selama ini kita selalu mengevaluasi anggaran (pemasukan dan pengeluaran). Tetapi apakah kita juga sudah memeriksa properti, barang, perlengkapan dan peralatan penunjang kegiatan lain yang dibeli dengan uang umat dalam kondisi lengkap dan baik?

Kedua, akses jalan dari dan menuju gereja sering banjir ketika hujan lebat. Tak tanggung-tanggung, ‘genangan air’ itu bisa mencapai 50 cm. Paroki diharapkan bisa duduk bareng dengan pengembang Grand Galaxy City demi mengatasi persoalan banjir.

Ketiga, pengembangan perparkiran. Jumlah umat dan kendaraan akan terus bertambah tiap tahun. Kita bisa melihat di setiap Minggu, mobil umat parkir berbaris seperti ular hingga sekolah Pax Patriae. Bagaimana perparkiran di gereja di sepuluh tahun mendatang? Kita belum tahu di mana umat bakal menemukan tempat parkir lagi. Mungkinkah Mall Grand Galaxy Park sebagai salah satu solusi? Jika ingin jujur, berapa banyak umat yang bersedia parkir di sana, lalu rela berjalan hingga ke gereja? Apakah bisa disediakan bus umum untuk mengangkut umat setiap Misa Sabtu sore, Minggu dan hari raya demi mengurangi banjir kendaraan di halaman parkir atau ruas jalan umum?

Keempat, membangun relasi positif dengan karya pelayanan yang menyentuh kebutuhan riil warga sekitar. Paroki Taman Galaxi diharapkan tetap aktif mengadakan kegiatan atau aksi sosial untuk umat dan warga sekitar. Sesungguhnya kegiatan seperti itu selain menjawab kebutuhan mendasar umat juga merupakan bentuk dialog tanpa kata yang efektif. Eksistensi Gereja mampu bertahan hingga kini karena adanya partisipasi umat dan juga andil dari masyarakat sekitar.